zmedia

Tekanan Baru Trump, NATO Diuji Loyalitas

Tekanan Baru Trump, NATO Diuji Loyalitas

Jagat Pewarta, Washington - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu dinamika geopolitik global dengan mempertimbangkan langkah pemberian sanksi terhadap sejumlah negara anggota NATO.

Kebijakan ini disebut menyasar negara-negara yang dinilai tidak sejalan dengan dukungan Washington terhadap Israel dalam konflik melawan Iran.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, rencana tersebut tidak hanya sebatas sanksi ekonomi atau politik, tetapi juga mencakup opsi strategis berupa pemindahan pasukan militer AS dari negara-negara NATO yang dianggap “kurang loyal” ke negara-negara yang lebih mendukung kebijakan luar negeri Amerika.

Langkah ini dipandang sebagai tekanan serius, meski belum sampai pada skenario ekstrem seperti penarikan penuh AS dari NATO yang secara hukum membutuhkan persetujuan Kongres.

Namun, sinyal yang disampaikan tetap memperlihatkan adanya ketegangan internal dalam aliansi pertahanan terbesar di dunia tersebut.

Isu ini mencuat bersamaan dengan kunjungan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, ke Gedung Putih.

Pertemuan tersebut disebut menjadi momen penting dalam menentukan arah hubungan AS dan NATO ke depan, terutama di tengah konflik yang terus berkembang di Timur Tengah.

Sebelumnya, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan kritik tajam terhadap NATO.

Ia menyebut aliansi tersebut telah “diuji dan gagal” dalam merespons konflik dengan Iran.

“Sayangnya, NATO berpaling dari rakyat Amerika dalam enam pekan terakhir, padahal Amerika selama ini menjadi tulang punggung pembiayaan pertahanan mereka,” ujar Leavitt kepada wartawan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan penarikan AS dari NATO, Leavitt tidak menutup kemungkinan tersebut akan dibahas langsung oleh Trump dalam pertemuannya dengan Rutte.

Pernyataan itu semakin mempertegas bahwa hubungan antara Washington dan sekutu-sekutunya tengah berada di titik sensitif.

Pengamat menilai, jika rencana ini benar-benar direalisasikan, maka akan berdampak besar pada stabilitas keamanan global serta soliditas NATO sebagai aliansi pertahanan kolektif. (Bd20)