CIMAHI ,jagatpewarta.com - Sejumlah siswa TK, SD dan SMP di Kota Cimahi dilaporkan mengalami gejala keracunan diduga usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (25/2/2026).
“Benar ada dugaan kerancunan MBG, kami terus monitor dan berkomunikasi dengan kepala sekolah,” ujarnya saat dihubungi awak media.
Ia mengatakan saat ini ada 53 siswa yang mengalami gejala serupa.
“Total korban ada 53, Masuk RS Cibabat 15, Mitra Kasih 2, RS Dustira 1,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu orang tua murid mengatakan bahwa MBG yang diterima hari ini asem dan berubah warna.
“Ada nasi onigiri yang anak saya dapet dari menu MBG rasanya asem dan nasi sudah berubah warna kuning, beberapa temen anak saya muntah-muntah setelah makan onigiri dan dibawa ke klinik atau RS Cibabat,” ujarnya.
Sementara itu Pemerintah Kota Cimahi bergerak cepat menyusul dugaan keracunan massal yang menimpa belasan siswa usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Wakil walikota Adhitia hadir bersama jajaran Forkopimda Kota Cimahi untuk memastikan kondisi para siswa serta mengoordinasikan langkah penanganan. Dugaan keracunan tersebut terjadi setelah pendistribusian MBG di sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Cimahi Tengah.
Sekolah yang siswanya dilaporkan mengalami gejala antara lain TK PGRI, TK Kartika, SD Cimahi Mandiri 4, Karang Mekar Mandiri 1, serta SMP 6.
“Alhamdulillah sejauh ini masih tertangani oleh RSUD Cibabat. Ada sekitar 20 -an pasien, sebagian sudah pulang dan sebagian masih diobservasi. Kita pantau terus malam ini jika ada tambahan kasus,” jelasnya.
Pemkot Cimahi juga menyiapkan skema distribusi pasien ke rumah sakit lain apabila terjadi lonjakan kasus.
Adhitia mengungkapkan, begitu laporan dugaan keracunan diterima pada sore hari, Pemkot melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan langsung menginstruksikan sekolah agar menghentikan konsumsi MBG yang belum dimakan.
Instruksi penghentian disampaikan sekitar pukul 16.00–17.00 WIB sebagai langkah pencegahan.
“Kita minta makanan yang belum dikonsumsi agar tidak dimakan. Ini langkah preventif supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya
Ia menyebutkan, jika masih ada siswa yang mengalami gejala, diduga berasal dari makanan yang telah dikonsumsi sebelum instruksi penghentian diberlakukan.
Pemerintah Kota Cimahi saat ini masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Seluruh sampel makanan yang didistribusikan telah diamankan untuk diperiksa.
“Sampel yang dibawa semuanya, ada onigiri, apel, kurma, susu murni, dan telur rebus. Sedang diuji oleh laboratorium, nanti kita tunggu hasilnya,” kata Adhitia.
Dari hasil wawancara sementara dengan keluarga siswa, konsumsi makanan bervariasi. Ada yang baru menyantap onigiri, ada pula yang telah meminum susu. Waktu konsumsi pun berbeda-beda, mulai pukul 11.00 WIB hingga sore hari sebelum instruksi penghentian.
Terkait penyedia makanan atau SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), Adhitia memastikan pihak pengelola telah dipanggil dan diberikan teguran awal.
“Yang jelas kami tegur terlebih dahulu kenapa sampai terjadi seperti ini. Selanjutnya kita serahkan ke laboratorium dan pihak yang sesuai mekanisme untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tandasnya.
Saat ini, Pemkot Cimahi menegaskan fokus utama adalah penanganan medis para siswa, sembari menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut
Saat ini, pengawasan masih terus dilakukan terkait kemungkinan adanya penambahan korban.
(Die234)



