CIMAHI,Jagatpewarta.Com – Ancaman krisis air bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas. Tanda-tandanya mulai terlihat di berbagai wilayah, mulai dari berkurangnya debit sumber air hingga sumur-sumur warga yang mengering saat musim kemarau.
Kondisi ini menjadi alarm serius bagi masyarakat dan pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi.
Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, mengingatkan bahwa eksploitasi air tanah yang berlangsung selama bertahun-tahun telah memberikan dampak nyata terhadap lingkungan.
Menurutnya, banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa penggunaan air tanah secara berlebihan dapat mempercepat terjadinya krisis air di masa depan.
"Kita tidak sadar telah melakukan eksploitasi air tanah, apalagi buktinya sudah ada di depan mata.
Air tanah tiba-tiba kering, semakin parah kalau kemarau. Kita mesti khawatir, prediksinya kan di 2050 kekeringan ekstrem akan terjadi," ujarnya.
Peringatan tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Cimahi. Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudistira, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menunggu hingga masyarakat merasakan dampak kekeringan secara langsung baru kemudian bertindak.
Menurut Adhitia, berbagai kajian dari para ahli, termasuk data dari BMKG dan penelitian ITB, menunjukkan bahwa wilayah Bandung Raya memiliki potensi menghadapi ancaman kekeringan yang semakin serius pada masa mendatang.
"Kami dari pemerintah mencoba mengantisipasi potensi terjadinya kekeringan ekstrem di Kota Cimahi. Ini menjadi perhatian serius karena berdasarkan informasi dari BMKG dan sejumlah kajian, termasuk dari ITB, ancaman kekeringan di wilayah Bandung Raya perlu diwaspadai," katanya saat diwawancarai awak media, Senin (22/6/2026).
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Cimahi kini tengah melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling berat saat musim kemarau. Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan strategi mitigasi yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan skenario distribusi air bersih untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi apabila kekeringan ekstrem benar-benar terjadi.
"Kami sedang mendata titik-titik mana saja yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem. Setelah itu kami siapkan langkah penanganannya, termasuk memastikan ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat yang terdampak," jelas Adhitia.
Ancaman kekeringan, lanjutnya, bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan air minum. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Meski fenomena alam tidak dapat dicegah, pemerintah meyakini dampaknya dapat diminimalkan melalui perencanaan yang matang dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat.
"Fenomena alam memang tidak bisa kita lawan, tetapi kita bisa mempersiapkan diri agar dampaknya tidak terlalu besar bagi masyarakat. Itu yang saat ini sedang kami lakukan," tegasnya.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, Pemerintah Kota Cimahi juga mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan dalam menggunakan air.
Penghematan penggunaan air, perlindungan daerah resapan, serta menjaga keberlangsungan sumber-sumber air dinilai menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk menghadapi masa depan.
Jika eksploitasi air tanah terus berlangsung tanpa kendali, prediksi kekeringan ekstrem pada 2050 bukan lagi sekadar peringatan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci agar ancaman krisis air tidak berubah menjadi bencana nyata bagi generasi mendatang.
Sementara itu kepala dinas dpkp kota Cimahi Amy Pringgo Mardani,S.T.,M.T. menghimbau Bijak lah memanfaatkan air karena kita sudah di zona merah musim kemarau sedang berlangsung gunakan air seefisien mungkin jangan di buang buang
(Die234)


